Potensi alam
dan budaya yang
dimiliki negara - negara berkembang seperti Indonesia dapat dijadikan modal
pengembangan pariwisata di negara ini
sehingga dapat dikembangkan sebagai
aktivitas perekonomian. Sebagai
industri jasa, pariwisata berperan penting
dalam kebijakan berkenaan
kesempatan kerja karena
alasan semakin mendesaknya tuntutan
kesempatan kerja tetap
seiring dengan meningkatnya wisata
dimasa yang akan
datang (Spillane, 1994).
Dari sisi permintaan dampak
industri pariwisata menyusup ke berbagai kegiatan perekonomian dan
menyebar secara pesat
melalui beragam industri
terkait. Dampak ekonomi itu
mencakup spektrum kebijakan
yang luas, menyangkut kesempatan berusaha,
kesempatan kerja, transportasi, akomodasi,
prasarana, pengembangan
wilayah, perpajakan, perdagangan, dan
lingkungan. Industri pariwisata,
secara khusus dikatakan sangat efektif dalam mendukung usaha kecil dan penciptaan
kesempatan kerja untuk
kalangan usia muda
serta menyebarkan peluang kesempatan
kerja, baik dalam
ruang lingkup regional,
nasional, maupun internasional
(Yoeti, 2008).
Dengan demikian,
industri pariwisata dapat
memainkan peran sebagai katalis penting
bagi pembangunan wilayah.
Bagian terbesar dari
prasarana yang dibutuhkan industri
ini, seperti halnya
jalan, bandara,
telekomunikasi, memberikan
sumbangan langsung bagi
pembangunan perekonomian pada umumnya, dimana
industri pariwisata itu
dikembangkan. Kedatangan wisatawan mancanegara atau
nusantara merupakan sumber
penerimaan bagi daerah
atau negara, baik dalam bentuk devisa atau penerimaan pajak dan
retribusi lainnya, di samping dapat meningkatkan
kesempatan kerja. Dalam
kebijaksanaan tahun 1980-an dimana
industri pariwisata ditetapkan
sebagai sektor prioritas
dalam bidang ekonomi bagi
penerimaan devisa dan
pembukaan lapangan kerja, Indonesia telah
mengambil posisi kebijakasanaan strategis
mendahului kabanyakan
pesaing Indonesia di
forum internasional. Untuk
menggali potensi industri
pariwisata di Indonesia secara efektif untuk bersinergi secara menyeluruh
di tingkat nasional,
mencakup semua pihak
terkait dikembangkan tanpa penundaan lebih
lanjut, meliputi semua
sub-sektor utama dalam
industri pariwisata seperti: kalangan
pengembangan kawasan wisata,
industri perhotelan, sistem
transportasi wisata (terutama maskapai penerbangan), jasa biro perjalanan
wisata, pemasaran dan promosi, dan pengembangan sumberdaya manusia (Yoeti,
2008).
Menurut Prof.
Dr. Salah Wahab
dalam bukunya Tourism Management (1976:12) dalam Ismayanti (2010)
mengatakan:
“It is an important factor of
economic development, as it motivates the development of several sectors on the
national economy.”
Pariwisata
merupakan faktor pentingdalam pembangunan ekonomi suatu negara, karena
mendorong perkembangan beberapa sektor perekonomian nasional (Yoeti, 2008),
misalnya:
- Peningkatan kegiatan perekonomian sebagai akibat dibangunnya prasarana dan sarana demi pengembangan pariwisata, sehingga memungkinkan orang-orang melakukan aktivitas ekonominya dari suatu tempat ke tempat lainnya, baik dalam satu wilayah negara tertentu, maupun dalam kawasan internasional sekali pun.
- Meningkatkan industri-industri baru yang erat kaitannya dengan pariwisata seperti misalnya: transportasi, akomodasi, yang akhirnya akan menciptakan permintaan baru seperti: trasportasi wisatawan dan perlengkapan hotel.
- Meningkatkan hasil pertanian dan peternakan untuk kebutuhan hotel dan restoran, seperti sayur, buah-buahan, bunga, telur, daging, dan lainnya karena semakin banyaknya orang yang melakukan perjalanan wisata.
- Meningkatkan permintaan terhadap souvenir, kerajinan tangan, dan lain-lain.
- Memperluas barang-barang lokal untuk lebih dikenal oleh dunia internasional termasuk makanan dan minuman, seperti: Ukiran Jepara, Patung Bali, Batik Pekalongan, atau Sate Madura.
- Meningkatkan perolehan devisa negara sehingga dapat mengurangi beban defisit neraca pembayaran.
- Memberikan kesempatan kerja, kesempatan berusaha, peningkatan penerimaan pajak bagi pemerintah, dan peningkatan pendapatan nasional.
- Mempercepat perputaran perekonomian pada negara penerima kunjungan wisatawan.
- Dampak pengganda yang ditimbulkan dari pengeluaran wisatawan, sehingga memberi dampak positif bagi pertumbuhan daerah tujuan wisatayang dikunjungi wisatawan.Dalam negara berkembang, pendapatan nasional sering digunakan untuk tolak ukur keberhasilan pembangunan nasional (Yoeti, 2008). Dalam ekonomi pariwisata, pendapatan nasional dari sektor pariwisata dapat digambarkan dengan
Kebijakan dan Langkah-langkah Pengembangan Pariwisata Indonesia, Menurut Muljadi (2012:72-78) Dalam upaya mencapai sasaran pembangunan kepariwisataan Indonesia dan berdasarkan Rencana Repelita VII Pariwisata, diperlukan suatu strategi melalui kebijakan dan langkah-langkah yang harus laksanakan secara terus menerus. Kebijakan ini ditetapkan sebagai suatu pedoman dalam penyelenggaraan kepariwisataan. Kebijakan-kebijakan tersebut antara lain:
Menjadikan
Pariwisata sebagai Penghasil Devisa Utama
Upaya memperkokoh perekonomian perlu peningkatan
penerimaan devisa, di mana salah satu sektor potensialnya adalah sektor
pariwisata. Untuk itu, kebijaksanaan yang ditempuh adalah:
- Menggencarkan pemasaran dan promosi dengan memberikan peran yang lebih dominan bagi usaha pariwisata.
- Meningkatkan kerja sama dan koordinasi berbagai sektor terkait, baik di tingkat pusat maupun daerah dalam setiap kegiatan pemasaran dan promosi baik di dalam maupun luar negeri.
- Mengharap lebih intensif pasar Asia Pasifik sehingga akan semakin meningkatkan pangsa pasar.
- Menggarap sigmen pasar yang berpotensi pembelanjaan tinggi dengan didukung peningkatan mutu pelayanan dan diversifikasi produk.
- Memberikan kemudahan wisatawan untuk mengadakan perjalanan.
- Meningkatkan promosi terpadu dalam lingkup bilateral, regional, dan multilateral.
- Meningkatkan citra pariwisata melalui keikutsertaan dalam event-event pariwisata internasional.
- Peningkatan kuantitas dan kualitas bahan promosi melalui penyajian data dan informasi yang akurat.
Sebagai sektor pembangunan yang
multidimensional, pengembangan pariwisata nusantara yang mempunyai potensi
dampak pengganda yang relatif besar, sebagai pendorong pembangunan. Untuk itu
kebijaksanaan yang ditempuh adalah:
- Meningkatkan sadar wisata masyarakat melalui pemasyarakatan Sapta Pesona.
- Mengembangkan promosi Dalam Negeri untuk menjadikan Nusantara sebagai daerah tujuan wisata bagi penduduk Indonesia.
- Meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang kepariwisataan nasional.
- Penyebarlusakan informasi objek dan daya tarik wisata serta sarana pendukungnya kepada masyarakat.
- Peningkatan sarana dan prasarana untuk sigmen pasar wisnus (wisata remaja, lansia, dan penyandang cacat).
Meningkatkan
Ketangguhan Kepariwisataan Nasional
Dalam rangka menghadapi era globalisasi yang penuh
persaingan, maka produk wisata harus mampu meningkatkan ketangguhan di
tengah-tengah persaingan yang cukup ketat. Untuk itu kebijaksanaan yang
ditempuh adalah:
- Menyusun perencanaan pengembangan pariwisata nasional untuk dijabarkan ke tingkat daerah dengan memperhatikan pola dasar pengembangan daerah, rencana Tata Ruang Daerah dan standardinasi mutu produk.
- Penyesuaian pembangunan daerah tujuan wisata dengan potensi masing-masing, serta mempertimbangkan sasaran pasar yang akan diraih dengan mempertimbangkan tahap perkembangannya.
- Pengembangan produk wisata di luar Jawa dan Bali dengan pemantapan dan peningkatan Kawasan Pembangunan Ekonomi Terpadu, Kawasan Andalan Prioritas, dan kawasan tertentu lainnya dalam upaya mempercepat pemerataan pembangunan.
- Pengembangan dan pengusahaan objek dan daya tarik wisata alam, budaya dan minat khusus sebagai komponen utama untuk meningkatkan produk wisata yang berkualitas.
- Pembinaan dan pengembangan usaha jasa pariwisata dan pengusahaan jasa pariwisata seperti Biro Jasa Wisata (BPW), Pramuwisata, dan usaha jasa lainnya serta sistem pendukungnya.
- Pembinaan dan Pengembangan Usaha Sarana Pariwisata dan pengusahaan sarana pariwisata (akomodasi, kawasan pariwisata, wisata tirta, restoran, angkutan wisata, serta sistem pendukungnya).
- Mendorong peningkatan penggunaan produk dalam negeri.
- Meningkatkan dan memperluas aksesibilitas guna mendukung pengembangan pariwisata.
- Meningkatkan mutu pelayanan informasi kepariwisataan.
- Pengembangan sistem informsi pariwisata melalui penyediaan pusat data yang handal.
- Meningkatkan kualitas produk pariwisata sebagai antisipasi terhadap meningkatnya tuntutan wisatawan.
- Peningkatan penggunaan IPTEK guna mendukung optimalisasi pengembangan pariwisata.
Peningkatan
Sumber Daya Manusia Bidang Kepariwisataan
Sebagai penyelenggara kegiatan kepariwisataan, peranan sumber daya manusia sangat penting. Dengan memanfaatkan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi, maka kegiatan-kegiatan kepariwisataan dapat menghasilkan pelayanan yang profesional. Untuk itu perlu ditempuh kebijaksanaan-kebijaksanaan sebagai berikut:
Sebagai penyelenggara kegiatan kepariwisataan, peranan sumber daya manusia sangat penting. Dengan memanfaatkan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi, maka kegiatan-kegiatan kepariwisataan dapat menghasilkan pelayanan yang profesional. Untuk itu perlu ditempuh kebijaksanaan-kebijaksanaan sebagai berikut:
- Mengembangkan lembaga pendidikan dan latihanGuna menghasilkan sumber daya manusia yang mampu memberikan pelayanan secara profesional di bidang kepariwisataan, perlu dikembangkan model pendidikan dan latihan dengan memberikan fasilitas fisik dan non-fisik dan memanfaatkan iptek modern.
- Memperbanyak jumlah pemandu wisata dan penyedia profesionalPelayanan jasa kepariwisataan juga bertumpu pada profesionalnya pemandu wisata dan penyedia. Peningkatan kemampuan profesional ini mencakup penguasaan dalam memahami dan menggunakan bahasa sehingga perlu dilakukan akreditasi terhadap lembaga penyelenggara pendidikan dan latihan di bidang kepariwisataan.
- Mengembangkan kerja sama internasionalKerja sama dalam memberikan pendidikan dan latihan secara internasional, dapat dimulai dengan kerja sama antara negara-negara ASEAN. Hal ini dimaksudkan meningkatkan profesionalnya pemandu dan penyedia wisata, dengan cara merasakan secara langsung pemberian layanan kepariwisataan.
Peningkatan Kemitraan Masyarakat, Swasta,
dan Media Massa
Keberhasilan Pembangunan
Kepariwisataan Nasional merupakan hasil kerja dan instansi pemerintah pusat dan
daerah serta instansi swasta, dengan dukungan masyarakat dan media massa. Oleh
karena itu, guna mencapai sasaran Pembangunan Kepariwisataan Nasional, perlu
ditempuh kebijaksanaan sebagai berikut:
- Peningkatan pembinaan media massaUpaya menyebarluaskan obyek dan daya tarik wisata perlu terus ditingkatkan dengan mengajak serta keterlibatan media massa dalam pemberitaan secara nasional dan internasional. Oleh karena itu, penyampaian data dan informasi mengenai pembangunan kepariwisataan nasional perlu lebih ditingkatkan melalui berbagai forum dan kesempatan, dan dilakukan pembinaan terhadap wartawannya.
- Peningkatan pembinaan terhadap organisasi kemasyarakatanPenyertaan masyarakat dalam kegiatan kemasyarakatan dapat ditempuh melalui pembinaan organisasi-organisasi kemasyarakatan, khususnya yang berhubungan dengan penyelenggaraan kegiatan kepariwisataan, seperti upacara-upacara adat setempat.
- Peningkatan pembinaan unit ekonomi setempatPenyerataan lembaga-lembaga ekonomi daerah, seperti Koperasi Unit Usaha Cindramata, dan unit usaha lainnya sangat diperlukan untuk lebih memperbanyak akses ekonomi kepariwisataan. Penyerataan ini dilakukan secara bersama-sama dengan upaya pembinaan, agar penyelenggaraan kewirausahaan ini mengikuti selera pasar bagi wisatawan mancanegara dan nusantara.Mendorong peran serta organisasi kemasyarakatan dalam meningkatkan pemahaman terhadap pembangunan kepariwisataan.
Peningkatan
Kerja Sama Lintas Sektoral
Pembangunan sektor pariwisata menyentuh segala aspek
kehidupan masyarakat, sehingga keterpaduan pembangunan pariwisata memerlukan
peningkatan kerja sama lintas sektoral, sehingga perlu ditempuh kebijaksanaan
sebagai berikut:
- Memantapkan peraturan dan kelembagaan dalam penyelenggaraan kepariwisataan
- Menanamkan pengertian yang sama tentang pentingnya sektor pariwisata kepada lembaga-lembaga terkait, baik di pusat maupun daerah.
- Meningkatkan kerja sama antar lembaga dengan memfungsikan lembaga-lembaga koordinasi yang ada.
- Meningkatkan keterpaduan pembinaan unit-unit usaha yang terkait dengan bidang kepariwisataan.
- Pemantapan keterpaduan pengembangan daerah tujuan wisata yang didukung oleh pengembangan jaringan perhubungan.
- Penyusunan perencanaan pengembangan kepariwisataan secara menyeluruh dan terpadu serta pemantapan konsolidasi antar sektor terkait.